Jumat, 08 September 2017

Pemimpin Sejati

Ciri-ciri Seorang Pemimpin Sejati.


·         Terus belajar.

Pemimpin yang berprinsip menganggap hidupnya sebagai proses belajar yang tiada henti untuk mengembangkan lingkaran pengetahuan mereka. Di saat yang sama, mereka juga menyadari betapa lingkaran ketidaktahuan mereka juga membesar. Mereka terus belajar dari pengalaman. Mereka tidak segan mengikuti pelatihan, mendengarkan orang lain, bertanya, ingin tahu, meningkatkan ketrampilan dan minat baru.

·         Berorientasi pada pelayanan.

Pemimpin yang berprinsip melihat kehidupan ini sebagai misi, bukan karir. Ukuran keberhasilan mereka adalah bagaimana mereka bisa menolong dan melayani orang lain. Inti kepemimpinan yang berprinsip adalah kesediaan untuk memikul beban orang lain. Pemimpin yang tak mau memikul beban orang lain akan menemui kegagalan. Tak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual, pemimpin harus mau menerima tanggung jawab moral, pelayanan, dan sumbangsih.

·         Memancarkan energi positif

Secara fisik, pemimpin yang berprinsip memiliki air muka yang menyenangkan dan bahagia. Mereka optimis, positif, bergairah, antusias, penuh harap, dan mempercayai. Mereka memancarkan energi positif yang akan mempengaruhi orang-orang di sekitarnya. Dengan energi itu mereka selalu tampil sebagai juru damai, penengah, untuk menghadapi dan membalikkan energi destruktif menjadi positif.

·         Mempercayai orang lain

Pemimpin yang berprinsip mempercayai orang lain. Mereka yakin orang lain mempunyai potensi yang tak tampak. Namun tidak bereaksi secara berlebihan terhadap kelemahan-kelemahan manusiawi. Mereka tidak merasa hebat saat menemukan kelemahan orang lain. Ini membuat mereka tidak menjadi naif.

·         Hidup seimbang

Pemimpin yang berprinsip bukan ekstrimis. Mereka tidak menerima atau menolak sama sekali. Meraka sadar dan penuh pertimbangan dalam tindakan. Ini membuat diri mereka seimbang, tidak berlebihan, mampu menguasai diri, dan bijak. Sebagai gambaran, mereka tidak gila kerja, tidak fanatik, tidak menjadi budak rencana-rencana. Dengan demikian mereka jujur pada diri sendiri, mau mengakui kesalahan dan melihat keberhasilan sebagai hal yang sejalan berdampingan dengan kegagalan.

·         Melihat hidup sebagai sebuah petualangan

Pemimpin yang berprinsip menikmati hidup. Mereka melihat hidup ini selalu sebagai sesuatu yang baru. Mereka siap menghadapinya karena rasa aman mereka datang dari dalam diri, bukan luar. Mereka menjadi penuh kehendak, inisiatif, kreatif, berani, dinamis, dan cerdik. Karena berpegang pada prinsip, mereka tidak mudah dipengaruhi namun fleksibel dalam menghadapi hampir semua hal. Mereka benar-benar menjalani kehidupan yang berkelimpaham.

·         Sinergistik

Pemimpin yang berprinsip itu sinergistik. Mereka adalah katalis perubahan. Setiap situasi yang dimasukinya selalu diupayakan menjadi lebih baik. Karena itu, mereka selalu produktif dalam cara-cara baru dan kreatif. Dalam bekerja mereka menawarkan pemecahan sinergistik, pemecahan yang memperbaiki dan memperkaya hasil, bukan sekedar kompromi dimana masing-masing pihak hanya memberi dan menerima sedikit.

·         Berlatih untuk memperbarui diri

Pemimpin yang berprinsip secara teratur melatih empat dimensi kepribadian manusia: fisik, mental, emosi, dan spiritual. Mereka selalu memperbarui diri secara bertahap. Dan ini membuat diri dan karakter mereka kuat, sehat dengan keinginan untuk melayani yang sangat kuat pula.

Kini coba Anda bandingkan cirri-ciri di atas dengan pemimpin Anda sendiri. Apakah sama persis, mendekati, atau tidak sama sekali? Namun bagaimanapun adanya pemimpin Anda, terlepas dari ia berprinsip atau tidak, Anda tentu sudah mengetahui cara berhadapan dengannya bukan?.

Pola Pikir

Paradigma Induksi Pola Pikir
===========================
Oleh: Sjamsurizal Sjamsudin Uban.


Seumpamanya kita sedang memperhatikan anak-anak murid sekolah dasar yang katakanlah mereka berjumlah 5 anak yang sedang di ajarkan ilmu matematika oleh seorang gurunya di kelas, yang kebetulan seorang wanita muda yang cukup cantik parasnya. Terlihat sikap kelima anak tersebut sangat serius sekali selayaknya murid-murid teladan dalam menerima pelajaran yang di berikan oleh gurunya. Suatu saat si guru berkata : “anak-anak…satu di tambah satu sama dengan dua, paham ya anak-anak?!” sambil menuliskan “1 + 1 = 2” di papan tulis. Kelima anak tersebut terdiam sejenak sambil memperhatikan apa yang baru di berikan oleh gurunya, lalu dengan serempak mereka menjawab : “paham bu!”. Kemudian gurunya melanjutkan : “baiklah anak-anak, kalau sudah paham, ibu akan mengadakan ujian di minggu depan ya anak-anak?!”, “baik bu” sambut anak-anak.

Anak yang bernama si A menangkap informasi dari gurunya dan menyimpannya ke dalam otaknya hanya sebatas suara gurunya saja, yaitu “satu ditambah satu sama dengan dua”, walaupun sikap pandangan si A menatap ke depan papan tulis (hal ini bisa terjadi oleh orang dewasa sekalipun bila sedang termenung, mata memandang ke depan tetapi pikiran terbang melayang ntah ke mana). Lalu si B menangkap informasi dan merekam ke otaknya sebatas suara gurunya “satu ditambah satu sama dengan dua” dan bentuk tulisan “1 + 1 = 2”. Kemudian si C menangkap dan menyimpan informasi tersebut seperti kata-kata berikut ini di dalam pikirannya “waaah tulisan ibu guruku ini bagus sekali yah?!” sambil matanya memandang takjub ke tulisan gurunya. Bahkan tak kalah hebatnya si D menangkap dan merekam informasi ke dalam pikirannya seperti ini :”wuaahh tangan ibu guruku ini halus dan putih juga yah!” sambil memperhatikan kulit tangan gurunya yang sedang menulis di papan tulis. Sedangkan si E menangkap, mencerna serta merekam informasi ke otaknya dengan cara memperhatikan substansi dasar dari nilai yang terkandung dalam sebuah angka 1 yang di simbolkan dengan bentuk “1” adalah bernilai satu, sedangkan nilai dari suatu tanda operasional yang di simbolkan sebagai bentuk “+” adalah penjumlahan, lalu nilai dari suatu tanda operasional yang di simbolkan sebagai bentuk “=” adalah sama dengan, dan nilai dari sebuah angka 2 yang di simbolkan dalam bentuk “2” adalah bernilai dua, dimana nilai dari angka “2” ini adalah nilai dari hasil penjumlahan angka “1” yang pertama dan angka “1” yang kedua.

Singkat cerita, tibalah saatnya hari ujian, lalu gurunya berkata kepada kelima muridnya : “Nah anak-anak, sekarang perhatikan soal yang akan ibu tuliskan di papan tulis ini dan kalian harus menjawab sendiri-sendiri”…selanjutnya : ”bebek di tambah bebek sama dengan berapa anak-anak?!” sambil menggambar “se-ekor bebek” “+” “se-ekor bebek” “= ?”. Nah, kira-kira siapakah yang bisa menjawab soal tersebut dengan benar?!.

Sebelum menjawabnya, marilah kita jabarkan sedikit bagaimana proses-proses masuknya informasi ke dalam pikiran masing-masing anak tersebut khususnya dalam hal menerima, mencerna & mengolah serta menjabarkan informasi yang telah di berikan oleh gurunya. Pertama, tentunya si A akan bingung menjawab soal ujiannya karena informasi sebelumnya yang dia terima dan terekam di otaknya hanya sebatas suara “satu ditambah satu sama dengan dua” sementara yang dia dengarkan dari gurunya sekarang adalah “bebek ditambah bebek sama dengan berapa?!”. Kedua, si B tentunya juga bingung menjawabnya karena info sebelumnya yang terekam di otaknya adalah suara “satu ditambah satu sama dengan dua” dan bentuk tulisan “1 + 1 = 2”, sementara si B sekarang mendapat info yang berbeda dari gurunya yaitu suara : ”bebek ditambah bebek sama dengan berapa” dan bentuk gambar “se-ekor bebek” “+” “se-ekor bebek” “= ?”. Lalu si C pun kebingungan menjawabnya, karena info sebelumnya yang terekam di otaknya adalah “waaah tulisan ibu guruku ini bagus sekali yah?!” sambil teringat matanya memandang takjub ke tulisan gurunya, sementara si C sekarang harus menjawab apa?. Sama halnya dengan si D yang bahkan lebih bingung lagi menjawabnya karena info sebelumnya yang terekam melekat di otaknya adalah “”wuaahh tangan ibu guruku ini halus dan putih juga yah!” sambil teringat pandangannya terhadap kehalusan kulit tangan gurunya. Bagaimana dengan si E?...sudah tentu si E-lah yang mampu menjawabnya dengan benar. Mengapa demikian?. Padahal kita sama-sama mengetahui bahwa kelima anak ini mendapat informasi dari sumber (guru) yang sama, isi informasi (mata pelajaran) yang sama dan waktu yang sama, tapi mengapa hasil outputnya berbeda-beda?. Kurang lebih karena di dalam otak si E sudah terformat pola pikir yang terstruktur melalui pemahaman nilai-nilai secara esensi/substansi/value. Mengapa ini bisa terjadi?.

Pada dasarnya kelima anak ini (termasuk kita) berawal mendapat informasi dari orang tuanya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya. Barulah saat usia sekolah mereka mendapat informasi selanjutnya dari pendidikan sekolah/lingkungan sekolah, lingkungan kuliah, organisasi, kantor, rumah tangga dan sebagainya. Tetapi mungkin ada yang terlewatkan di sini, tetapi bukan soal informasinya dan siapa yang menyampaikannya, melainkan bagaimana pola/pembentukannya yang sering terjadi sehingga terformat ke dalam diri anak-anak tersebut tanpa mereka sadari?!. Karena semua inilah yang akan berdampak dalam kehidupan anak tersebut kelak. Jadi, bagaimana dengan kita?. Apakah kita sudah menyadari yang terformat dalam pikiran kita selama ini?.

Seseorang tidak akan pernah berbicara atau bertindak di luar apa yang telah ia ketahui sebelumnya. Seseorang tidak mungkin bisa mengendarai motor jika seumur hidupnya belum pernah melihat motor atau belum pernah menerima informasi cara mengendarai motor dan belum pernah melatih mengendarainya. Tidak ada orang yang tiba-tiba langsung bisa, tidak ada orang yang tiba-tiba langsung pandai, dan tidak ada orang yang tiba-tiba langsung mengerti. Orang menjadi bisa, orang menjadi pandai, dan orang menjadi mengerti, karena mereka mau menjadi bisa, mau menjadi pandai dan mau menjadi mengerti, karena mereka benar-benar belajar dan berusaha untuk itu!. Hidup adalah pilihan, kita ingin menjadi penonton atau pemain?, menjadi pesuruh atau penyuruh?, jadi bawahan atau atasan?, menjadi kendaraan atau pengendara?, yang di kendalikan atau pengendali?, pekerja atau pemberi kerja?, yang di bimbing atau pembimbing?, peminta atau pemberi?, pengikut atau pemimpin?, pecundang atau pejuang?, dan sebagainya. Tak masalah apapun pilihan kita, apapun latar belakang pendidikan kita dan apapun status sosial kita, tapi setidaknya kita akan menyadari bahwa kualitas diri kita sebagian besar di pengaruhi oleh pembentukan pola pikir, dimana pola pikir akan menumbuhkan bentuk-bentuk sikap, sikap akan mempengaruhi tindakan yang cenderung di ulang-ulang, tindakan yang di ulang-ulang akan membentuk suatu kebiasaan-kebiasaan, kebiasaan-kebiasaan ini yang akan melahirkan suatu hasil (nilai/status/kualitas). Pada fase-fase inilah akan terjadi induksi- induksi ke dalam otak bawah sadar kita yang secara umum paling banyak berperan dalam menggerakkan diri kita pada kehidupan sehari-hari, terlepas fase-fase tersebut bernilai positif atau pun negatif. Di samping faktor “hati, doa serta keberuntungan”, pada dasarnya kelima fase ini juga merupakan tahapan-tahapan/proses dasar yang akan berdampak pada kualitas kehidupan manusia. Dan bisa jadi fase-fase ini ada kaitannya dengan kata-kata WYSIWYG (What You See Is What You Get) atau You are is what you’re thinking !!!.

Pada akhirnya, bila anda memahami maksud dan tujuan dari tulisan saya ini, dikarenakan anda “sungguh-sungguh mau” memahami isi dari tulisan-tulisan ini, sehingga hasilnya adalah anda menjadi “paham”. That’s your choice !.

Terimakasih.




Wassalam.

Copy Paste

Umumnya Kita Semua Adalah Hasil Dari Proses Copy-paste.
==============================================
Oleh: Sjamsurizal Sjamsudin Uban.


Apa maksudnya kata-kata copy-paste diatas?.
Sebelumnya, kita perhatikan terlebih dahulu tulisan-tulisan di bawah ini.

Kita semua sama-sama dilahirkan oleh seorang ibu, tentunya ibu kita masing-masing, yang bisa beragam asal usulnya, beragam perawakan fisiknya, nama, usia, bahasa, keadaan rumah tangga, lingkungan, tingkat pendidikan, budaya,  agama, keyakinan, kebiasaan  dan sebagainya. Begitu juga kita sama-sama menerima informasi awal (pelajaran awal) dari ibu kita sejak dalam kandungan rahimnya sampai lahir dan menjadi seorang balita, yaitu informasi tentang cinta kasih sayang yang tulus dari seorang ibu kepada anaknya melalui hati (naluri). Lalu selanjutnya kita mendapat beragam informasi lainnya, baik dari seorang bapak kita, kakak, adik, kakek, nenek, om, tante, tetangga rumah, guru dan teman di sekolah dan lain lainnya, bahkan sampai di sekolah tinggi dan kantor (tempat berkarya), seiring dengan perkembangan usia, lingkungan dan wawasan kita. Tetapi mengapa peng-aplikasiannya berbeda-beda dalam kehidupan kita? (dengan asumsi kita mendapat informasi yang sama)...padahal kita semua umumnya sama-sama memiliki alat penerima informasi yang sama seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, peraba, perasa (hati/naluri) dan otak sebagai alat penterjemah/pemroses informasi, serta momentum/motivasi sebagai penggerak dalam dirinya. Sementara pengertian informasi disini sangatlah luas, tidak terbatas hanya pada kata-kata (teks tertulis) saja, melainkan suara, bentuk pisik, bentuk gerakan, gambar, warna, rasa, aroma, dan sebagainya.

Kita bisa berbicara, duduk di bangku, makan sendiri, mandi sendiri, pakai baju sendiri adalah dari orang lain (orang tua kita). Kita bisa menghitung penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian adalah dari orang lain (guru/selain diri kita). Kita bisa menipu, berbuat kriminal, korupsi dan lain sebagainya yang dapat merugikan orang lain atau diri sendiri adalah dari orang lain atau dari suatu hal yang kita terima baik secara langsung ataupun tidak langsung. Bukankah ini semua merupakan hasil dari copy-paste atau tiru meniru atau duplikasi?. Nah inilah semua yang dapat membentuk hasil pengaplikasian informasi yang berbeda-beda dalam kehidupan kita sehari-hari, tergantung pada apa yang paling dominan yang meng-induksi dirinya. Untuk lebih jelasnya kita ulang sedikit contoh perumpamaan cerita pendek pada bab sebelumnya ‘paradigma induksi pola pikir”. Dalam cerita kelima anak tersebut sangatlah jelas terjadi perbedaan-perbedaan dalam hal penerimaan informasi yang merupakan perbedaan proses saat meng-“copy–paste”, mengapa?, karena pada proses ini terdapat beberapa hal yang mendominasi dirinya yaitu alat penerima informasi yang mana yang siap aktif untuk meng-copy?, seberapa detilkah penyampaian informasi yang di sampaikan oleh sumber informasi (gurunya/orang yang menyampaikan informasi) atau mereka meng-copy dari mana?, dan seberapa luaskah informasi yang di copy-nya?. Mengapa demikian?, karena setiap orang tidak selalu sama persis alat penerima informasi yang mana yang sedang aktif pada saat meng-copy informasi yang sedang di sampaikan dan bagaimana pula ia menterjemahkan informasi yang ia terima di dalam otaknya (seperti contoh cerita kelima anak di atas), atau bahkan bisa saja si E menerima informasi tidak hanya sebatas memahami penjumlahan 1 + 1 = 2 saja , melainkan ia juga memperhatikan bagaimana cara menjelaskan dan menguraikan 1 + 1 = 2 yang benar yang dalam hal ini di sebut menerima informasi tentang penyampaian informasi itu sendiri serta pengembangannya. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana jikalau ke-empat anak tersebut (A, B, C, D) belum melakukan perubahan informasi yang telah masuk ke dirinya tapi mereka sudah menyampaikan informasi (menduplikasikan) ke orang lain dan orang lain tersebut juga sudah menyampaikannya lagi ke orang-orang berikutnya. Bagaimana dengan kualitas informasi tersebut? Dan bagaimana pula dampaknya bila informasi tersebut sudah terduplikasikan lagi oleh orang-orang lain berikutnya dan seterusnya dan seterusnya? sehingga sangat sulit untuk menelusuri kembali dari mana informasi ini berawal, baik yang benar ataupun yang keliru.

Saya tidak bermaksud mengatakan cara copy-paste/tiru meniru/duplikasi yang mana yang benar atau yang keliru, tapi setidaknya nuansa “iqra” kita jadi bertambah sehingga kita akan menyadari bahwa hasil copy-paste atau tiru meniru atau duplikasi akan dapat berbeda-beda pengaplikasiannya dan begitu pula hasilnya, tergantung pada hal-hal yang mendominasi dirinya.

Jadi, mungkin kita bisa garis bawahi bahwa bila kita ingin benar-benar berhasil dalam suatu hal atau ingin menjadi benar-benar seorang ahli, maka lakukanlah “copy-paste/tiru meniru/duplikasi” dengan benar melalui orang-orang yang benar-benar telah berhasil atau benar-benar telah menjadi seorang ahli. Karena, …takkan mungkin seorang Valentino Rossi bisa menjadi sang juara dunia balap motor GP jika ia hanya menerima info dan berlatih motor (meniru) dari seorang pengendara motor biasa, melainkan ia banyak belajar dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan yang luas dan bertaraf internasional tentang cara mengendarai motor balap di sirkuit. Begitu pula bila kita telah menjadi seorang Doctor (S3), sudah tentunya karena kita telah banyak belajar dengan orang-orang yang telah bertitel Doctor (S3) sebelumnya. Dan yang lebih penting lagi, bila kita ingin menjadi orang yang “benar-benar baik”, maka belajarlah kepada orang yang “benar-benar baik”, bukan belajar kepada orang-orang yang selalu “baik-baik”. Begitu juga bila kita ingin menjadi orang yang “benar-benar pintar”, maka bergurulah kepada orang yang “benar-benar pintar”, bukan kepada orang-orang yang selalu “pintar-pintar’.


Terima Kasih.




Wassalam 

Ketentuan Mutlak Ilahi

Alloh Melindungi HambaNya Dengan KetentuanNya Sendiri
==============================================
Oleh: Sjamsurizal Sjamsudin Uban.


Pada suatu senja, di salah satu sudut sebuah dusun kecil yang indah panoramanya, terlihat seorang nenek sebatang kara yang sedang membaca ayat-ayat suci Al-Quran di atas bangku bale teras depan rumahnya. Nenek ini sangat dikenal “taat” ibadahnya di kalangan warga dusunnya.

Singkatnya, pada suatu hari turunlah hujan yang sangat lebat, menyirami seluruh wilayah dusun tersebut, sementara si nenek sedang asiknya membersihkan pekarangan rumahnya. Lalu si nenek bergegas masuk ke dalam rumahnya agar tidak terkena basahnya air hujan. Tak lama kemudian suara azhan magrib pun berkumandang. Dan seperti biasanya si nenek langsung mengambil air wudhu untuk shalat magrib. Setelah menyelesaikan shalatnya, si nenek pergi menutup pintu jendela ruang tamunya. Namun, si nenek sangat terkejut ketika melihat seluruh pekarangan rumahnya sudah terendam air hujan sebatas lutut. Dan seketika itu juga ia berkata : “Ya Alloh, sedemikian cepatnya air hujan ini membanjiri pekarangan rumahku?!”. Lalu si nenek langsung melanjutkannya dengan memohon do’a kepada Alloh SWT melalui suara hatinya : “Ya Alloh, selamatkanlah aku dari badai hujan lebat ini…Amiiin”. Akan tetapi, si hujan lebat ini tiada henti-hentinya bagaikan tak kenal lelah mencurahkan airnya ke seluruh pelosok dusun tersebut.

Beberapa saat telah berlalu…tiba-tiba terdengar suara dari luar rumah si nenek…”Assalam mu’alaikum”, si nenek langsung menyambutnya dengan “Wa ‘alaikum salam” sambil membuka pintu depan rumahnya,…ternyata mereka adalah para tetangganya yang datang mengajak si nenek untuk menyingkir sementara ke dusun sebelah yang dataran wilayahnya jauh lebih tinggi. Namun si nenek menolaknya secara halus, karena ia merasa yakin bahwa Alloh sebentar lagi akan meredakan hujannya. Lalu, mereka berpamitan dan langsung berangkat menuju dusun sebelah. Waktu terus berjalan, hujan pun masih berlangsung dan air makin naik setinggi pinggang. Si nenek mulai terlihat khawatir, lalu beranjak naik ke atas bale depan terasnya sambil memeluk selimut dinginnya yang setengah basah dan selalu berdo’a. Tiba-tiba datanglah lagi 2 orang dengan mengendarai perahu karet yang ternyata adalah bapak kepala dusun dan seorang ustadz muda yang datang bermaksud menjemput si nenek untuk mengungsi. Lagi-lagi si nenek  menolaknya sambil berkata dengan gemetar karena kedinginan : ”Tidak usah pak, biar saya di sini saja, InsyaAlloh sebentar lagi hujan akan reda”, namun si ustadz pun ikut mengingatkan si nenek :”Iya nek, InsyaAlloh…tapi mohon maaf nek, bukankah Alloh melindungi hambaNya selalu dengan ketentuanNya?”. Singkat cerita, si nenek masih tetap menolaknya. Tak lama kemudian air sudah setinggi dada, dan datanglah Tim SAR dengan pesawat helikopternya dan seorang petugas pun turun melalui tangga daruratnya yang menjulur kebawah sambil menyodorkan tangan kekarnya ke si nenek dan berkata :”Nek…ayo naik nek, jangan sia-siakan kesempatan ini nek?!,  bukankah Alloh itu melindungi hambaNya selalu dengan KetentuanNya sendiri?!”. Luar biasanya, si nenek ini lebih tegas lagi menolaknya dan bahkan ia meyakinkan kepada petugas tersebut bahwa Alloh pasti akan menolongnya. Sambil menghela nafas panjang, si petugas tim SAR pun pergi meninggalkan si nenek.

Ke esokan harinya, terlihatlah panorama sebuah dusun yang sangat indah sebelumnya itu berubah total bagaikan  lautan air bah.

Kesimpulan pada contoh cerita di atas bahwa si nenek mengharapkan bentuk aplikasi dari bala bantuan Alloh terjadi sesuai dengan harapannya. Mungkin saja si nenek mengharapkan hujan lebat tersebut cepat berhenti dan banjirnya cepat surut. Walaupun telah di kabulkan permintaannya tapi sayangnya ia tidak menyadari bentuk dari hasil do’anya tersebut. Mengapa? Karena kita tidak memiliki ketentuan dalam mengaplikasikan hasil doa kita, kecuali melalui Ketentuan Alloh semata. Kisah si nenek ini hanyalah kiasan saja, tapi setidaknya kisah ini dapat menambahkan nuansa “iqra” kita dalam menyelaraskan antara do’a dari hati dan sikap serta keikhlasan kita dalam menerima pengaplikasiannya dari hasil do’a kita dalam kehidupan sehari-hari.


Terima kasih.





Wassalam.

10 Ciri Orang Positif

10 Ciri Orang Yang Berpikir Positif.

                                                                                                                 Oleh : Sjamsurizal S.U


Semua orang yang berusaha meningkatkan diri dan ilmu pengetahuannya pasti tahu bahwa hidup akan lebih mudah dijalani bila kita selalu berpikir positif. Tapi, bagaimana melatih diri supaya pikiran positiflah yang 'beredar' di kepala kita, tak banyak yang tahu. Oleh karena itu, sebaiknya kita kenali saja dulu ciri-ciri orang yang berpikir positif dan mulai mencoba meniru jalan pikirannya.
1)       Melihat masalah sebagai tantangan.
Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.

2)       Menikmati hidupnya
Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati, meski tak berarti ia tak berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik.

3)       Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide.
Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik.

4)       Menghilangkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas di benak.
'Memelihara' pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan membangunkan singa tidur. Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa menimbulkan masalah.

5)       Mensyukuri apa yang dimilikinya.
Dan bukannya berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya.

6)       Menggunakan bahasa tubuh yang positif.
Di antaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan 'hidup'.

7)       Tidak mendengarkan gosip yang tak menentu.
Sudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu, mendengarkan omongan yang tak ada juntrungnya adalah perilaku yang dijauhi si pemikir positif.

8)       Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakan.
Pernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan? Nah, mereka ini jelas bukan penganutnya.

9)       Menggunakan bahasa positif.
Maksudnya, kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti "Masalah itu pasti akan terselesaikan," dan "Dia memang berbakat."

10)    Peduli pada citra diri.

Itu sebabnya, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi juga di dalam.

Kisah Katak kecil

KISAH KATAK KECIL
(Sjamsurizal S.U)


Pada suatu hari, ada sekumpulan katak-katak kecil yang sedang berlomba-lomba. Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi. Penonton berkumpul bersama  mengelilingi menara untuk menyaksikan  perlombaan dan memberikan semangat kepada para peserta...
Perlombaan pun dimulai...
Secara jujur :
Tak satupun penonton benar-benar percaya bahwa katak-katak kecil akan bisa berhasil mencapai puncak menara. Bahkan  terdengar ada yang berkata : "Oh, jalannya terlalu susahhhhh !!. Mereka  TIDAK AKAN BISA sampai ke puncak.". atau : "Tidak ada kesempatan untuk berhasil...Menaranya terlalu tinggi...!!.
Katak-Katak kecil mulai berjatuhan. Satu persatu..... Kecuali mereka  yang tetap bersemangat menaiki menara perlahan- lahan semakin tinggi...dan semakin tinggi…
Penonton terus bersorak : "Terlalu susah!!! Tak seekor pun yang akan berhasil!!!".
Lebih banyak lagi katak kecil yang lelah dan menyerah... ...Tapi … ada  SATU yang tetap melangkah hingga semakin tinggi dan tinggi... Dia tak kenal menyerah kalah! . Dan akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali  seekor katak kecil yang begitu berusaha keras dan menjadi  satu-satunya yang BERHASIL sampai KE PUNCAK !.
SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya?. Lalu, Seekor peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil itu mempunyai kekuatan untuk mencapai tujuan? Dan ternyata... Katak yang menjadi pemenang itu adalah TULI !!!!.
Nasihat dari cerita ini adalah : Jangan pernah sekali-kali mendengar kata orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis… …karena mereka akan mengambil sebahagian besar mimpi kita dan menjauhkannya dari kita. Selalulah ingat kata-kata bertuah yang ada. Karena segala sesuatu yang kita dengar dan kita baca akan mempengaruhi perilaku kita !.
Karena itu : Selalu tetap…. POSITIVE !!!
Dan yang terpenting : Bersikap TULI jika ada orang mengatakan bahwa KITA tidak bisa mencapai cita-cita kita !.
Selalu berpikir : “I can do this”.

Kirim pesanan ini kepada para sahabat Anda. Berikan mereka motivasi!!! Karena sahabat yang baik adalah sahabat yang sering  memberi motivasi antara satu sama lain…… Amiiiin.

Minggu, 03 September 2017

Penyakit Dalih

Mengatasi Penyakit Dalih
Oleh: Sjamsurizal S.U


Sembilan puluh sembilan persen kegagalan datang dari orang orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan, begitu kata George Washington Carver. Daripada mencari jalan keluar, mereka memilih untuk membuat 1001 dalih mengenai kegagalan mereka. Alhasil, kesempatan belajar pun terlewatkan begitu saja.

Dalam buku The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz menjelaskan mengenai penyakit pikiran yang mematikan alias penyakit dalih (excuisitis). Orang-orang gagal senantiasa berdalih mengenai kegagalan mereka. Penyakit dalih tersebut biasanya muncul 4 bentuk, yaitu: dalih kesehatan, dalih inteligensi, dalih usia dan dalih nasib.

Dalih kesehatan biasanya ditandai dengan ucapan, "Kondisi fisik saya tidak sempurna", "Saya tidak enak badan", "Jantung saya lemah", dan sejenisnya. Orang sukses tidak pernah menganggap cacatnya itu sebagai hambatan. Saya punya sahabat dekat yang menderita polio namun dikenal sebagai dokter spesialis ginjal sukses dan murah hati. Sejumlah besar tokoh-tokoh dunia bahkan punya cacat fisik. Presiden Amerika ke-32 Franklin Delano Roosevelt menderita polio, Shakespeare lumpuh, Beethoven tuli, Napoleon Nonaparte memiliki postur tubuh yang sangat pendek.

Dalih inteligensi diitandai dengan ucapan, "Saya kan tidak pintar", "Saya kan bukan rangking teratas", "Dia lebih pandai", dan sejenisnya. Inilah dalih yang paling umum ditemukan. Tanpa bermaksud mengecilkan arti sekolah, saya ingin mengatakan kepa Anda bahwa tidak perlu jadi profesor agar Anda bisa sukses. Selanjutnya, dalih usia yang ditandai dengan ucapan, "Saya terlalu tua", "Saya masih terlalu muda", "Biarkan yang lebih tua yang duluan", dan sejenisnya. Padahal tidak ada batasan usia dalam meraih sukses. Kolonel Sanders memulai usahanya di usia 65 tahun. Berikutnya adalah dalih nasib, misalnya dengan mengatakan , "Aduh, nasib saya memang selalu jelek", "Itu sudah nasibku", "Itu memang takdir" Memang amat mudah untuk selalu menyalahkan nasib. Padahal nasib kita ditentukan oleh kita sendiri. Tuhan telah
menentukan takdir kita dan memberikan hidup dengan sejumlah pilihan, namun kita lah yang memilih bagaimana melaluinya.

Baru-baru ini, hati saya tertegun ketika menyaksikan siaran televisi tentang seorang anak kecil yang ahli memainkan drum dalam
suatu acara di Thailand. Titi, nama bocah yang baru berusia 3 tahun itu memang layak dijuluki "drummer cilik". Bertubuh mungil dengan 2 jari yang tidak sempurna, Titi yang masih suka nge-dot ini menunjukkan kebolehannya menabuh drum. Tak berlebihan jika banyak yang menyarankan agar ia dimasukkan dalam Guiness Book of Record.

Prestasi yang diraih Titi sungguh menggugah kesadaran saya. Lihatlah betapa banyaknya orang yang memilih berdiam diri daripada melakukan apa yang bisa mereka perbuat. Padahal apapun yang layak diraih layak diupayakan dengan seluruh kemampuan yang kita miliki. Sayangnya, potensi diri ini kerap hanya terkubur karena kebiasan kita membuat dalih jika apa yang kita kerjakan tidak berjalan sesuai harapan kita atau hasilnya tidak segera kelihatan. Gaya hidup modern yang serba instant secara tidak langsung membuat kita sering mengharapkan hasil yang instant pula. Kita kepengen sekali makan durian tanpa mau menanam, menyiram, memupuki dan merawat
pohonnya.

Kalau orang gagal senantiasa berkata "itu tidak mungkin berhasil" maka orang sukses lebih suka berkata "mengapa tidak
dicoba?". Daripada membuat alasan, orang sukses memilih untuk mencari cara mewujudkan impian mereka. Daripada berdiam diri dan menunggu datangnya kesempatan, mereka memilih pergi keluar dan menemukan kesempatan itu. Bahkan mereka mampu menciptakan kesempatan dalam kesempitan. E.M. Gray menegaskan, orang-orang sukses mempunyai kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak suka dilakukan orang gagal. Jika saat ini Anda masih suka membuat dalih, buatlah komitmen untuk mengubah kebiasaan itu. Jangan biarkan potensi diri Anda dibelenggu oleh dalih-dalih Anda. Ingat selalu nasihat Theodore Roosevelt, "Lakukan apa yang Anda bisa, dengan apa yang Anda miliki, di mana pun Anda berada."

Sebagai akhir, ijinkanlah saya membagikan kepada Anda sebuah syair dari Afrika berjudul Perlombaan Saat Matahari Terbit. Setiap pagi di Afrika, seekor rusa bangun. Ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada singa tercepat, jika tidak ia akan terbunuh. Setiap pagi seekor singa bangun, ia tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat daripada rusa terlamban, jika tidak ia akan mati kelaparan. Tidak penting apakah Anda adalah sang rusa atau sang singa. Saat matahari terbit, Anda sebaiknya mulai berlari



Terima Kasih.


Wassalam.