Jumat, 08 September 2017

Copy Paste

Umumnya Kita Semua Adalah Hasil Dari Proses Copy-paste.
==============================================
Oleh: Sjamsurizal Sjamsudin Uban.


Apa maksudnya kata-kata copy-paste diatas?.
Sebelumnya, kita perhatikan terlebih dahulu tulisan-tulisan di bawah ini.

Kita semua sama-sama dilahirkan oleh seorang ibu, tentunya ibu kita masing-masing, yang bisa beragam asal usulnya, beragam perawakan fisiknya, nama, usia, bahasa, keadaan rumah tangga, lingkungan, tingkat pendidikan, budaya,  agama, keyakinan, kebiasaan  dan sebagainya. Begitu juga kita sama-sama menerima informasi awal (pelajaran awal) dari ibu kita sejak dalam kandungan rahimnya sampai lahir dan menjadi seorang balita, yaitu informasi tentang cinta kasih sayang yang tulus dari seorang ibu kepada anaknya melalui hati (naluri). Lalu selanjutnya kita mendapat beragam informasi lainnya, baik dari seorang bapak kita, kakak, adik, kakek, nenek, om, tante, tetangga rumah, guru dan teman di sekolah dan lain lainnya, bahkan sampai di sekolah tinggi dan kantor (tempat berkarya), seiring dengan perkembangan usia, lingkungan dan wawasan kita. Tetapi mengapa peng-aplikasiannya berbeda-beda dalam kehidupan kita? (dengan asumsi kita mendapat informasi yang sama)...padahal kita semua umumnya sama-sama memiliki alat penerima informasi yang sama seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, peraba, perasa (hati/naluri) dan otak sebagai alat penterjemah/pemroses informasi, serta momentum/motivasi sebagai penggerak dalam dirinya. Sementara pengertian informasi disini sangatlah luas, tidak terbatas hanya pada kata-kata (teks tertulis) saja, melainkan suara, bentuk pisik, bentuk gerakan, gambar, warna, rasa, aroma, dan sebagainya.

Kita bisa berbicara, duduk di bangku, makan sendiri, mandi sendiri, pakai baju sendiri adalah dari orang lain (orang tua kita). Kita bisa menghitung penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian adalah dari orang lain (guru/selain diri kita). Kita bisa menipu, berbuat kriminal, korupsi dan lain sebagainya yang dapat merugikan orang lain atau diri sendiri adalah dari orang lain atau dari suatu hal yang kita terima baik secara langsung ataupun tidak langsung. Bukankah ini semua merupakan hasil dari copy-paste atau tiru meniru atau duplikasi?. Nah inilah semua yang dapat membentuk hasil pengaplikasian informasi yang berbeda-beda dalam kehidupan kita sehari-hari, tergantung pada apa yang paling dominan yang meng-induksi dirinya. Untuk lebih jelasnya kita ulang sedikit contoh perumpamaan cerita pendek pada bab sebelumnya ‘paradigma induksi pola pikir”. Dalam cerita kelima anak tersebut sangatlah jelas terjadi perbedaan-perbedaan dalam hal penerimaan informasi yang merupakan perbedaan proses saat meng-“copy–paste”, mengapa?, karena pada proses ini terdapat beberapa hal yang mendominasi dirinya yaitu alat penerima informasi yang mana yang siap aktif untuk meng-copy?, seberapa detilkah penyampaian informasi yang di sampaikan oleh sumber informasi (gurunya/orang yang menyampaikan informasi) atau mereka meng-copy dari mana?, dan seberapa luaskah informasi yang di copy-nya?. Mengapa demikian?, karena setiap orang tidak selalu sama persis alat penerima informasi yang mana yang sedang aktif pada saat meng-copy informasi yang sedang di sampaikan dan bagaimana pula ia menterjemahkan informasi yang ia terima di dalam otaknya (seperti contoh cerita kelima anak di atas), atau bahkan bisa saja si E menerima informasi tidak hanya sebatas memahami penjumlahan 1 + 1 = 2 saja , melainkan ia juga memperhatikan bagaimana cara menjelaskan dan menguraikan 1 + 1 = 2 yang benar yang dalam hal ini di sebut menerima informasi tentang penyampaian informasi itu sendiri serta pengembangannya. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana jikalau ke-empat anak tersebut (A, B, C, D) belum melakukan perubahan informasi yang telah masuk ke dirinya tapi mereka sudah menyampaikan informasi (menduplikasikan) ke orang lain dan orang lain tersebut juga sudah menyampaikannya lagi ke orang-orang berikutnya. Bagaimana dengan kualitas informasi tersebut? Dan bagaimana pula dampaknya bila informasi tersebut sudah terduplikasikan lagi oleh orang-orang lain berikutnya dan seterusnya dan seterusnya? sehingga sangat sulit untuk menelusuri kembali dari mana informasi ini berawal, baik yang benar ataupun yang keliru.

Saya tidak bermaksud mengatakan cara copy-paste/tiru meniru/duplikasi yang mana yang benar atau yang keliru, tapi setidaknya nuansa “iqra” kita jadi bertambah sehingga kita akan menyadari bahwa hasil copy-paste atau tiru meniru atau duplikasi akan dapat berbeda-beda pengaplikasiannya dan begitu pula hasilnya, tergantung pada hal-hal yang mendominasi dirinya.

Jadi, mungkin kita bisa garis bawahi bahwa bila kita ingin benar-benar berhasil dalam suatu hal atau ingin menjadi benar-benar seorang ahli, maka lakukanlah “copy-paste/tiru meniru/duplikasi” dengan benar melalui orang-orang yang benar-benar telah berhasil atau benar-benar telah menjadi seorang ahli. Karena, …takkan mungkin seorang Valentino Rossi bisa menjadi sang juara dunia balap motor GP jika ia hanya menerima info dan berlatih motor (meniru) dari seorang pengendara motor biasa, melainkan ia banyak belajar dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan yang luas dan bertaraf internasional tentang cara mengendarai motor balap di sirkuit. Begitu pula bila kita telah menjadi seorang Doctor (S3), sudah tentunya karena kita telah banyak belajar dengan orang-orang yang telah bertitel Doctor (S3) sebelumnya. Dan yang lebih penting lagi, bila kita ingin menjadi orang yang “benar-benar baik”, maka belajarlah kepada orang yang “benar-benar baik”, bukan belajar kepada orang-orang yang selalu “baik-baik”. Begitu juga bila kita ingin menjadi orang yang “benar-benar pintar”, maka bergurulah kepada orang yang “benar-benar pintar”, bukan kepada orang-orang yang selalu “pintar-pintar’.


Terima Kasih.




Wassalam 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar