Umumnya Kita Semua Adalah Hasil Dari Proses Copy-paste.
==============================================
Oleh: Sjamsurizal
Sjamsudin Uban.
Apa maksudnya kata-kata copy-paste diatas?.
Sebelumnya, kita perhatikan terlebih dahulu tulisan-tulisan di bawah
ini.
Kita semua sama-sama dilahirkan oleh seorang ibu, tentunya ibu kita
masing-masing, yang bisa beragam asal usulnya, beragam perawakan fisiknya, nama,
usia, bahasa, keadaan rumah tangga, lingkungan, tingkat pendidikan, budaya, agama, keyakinan, kebiasaan dan sebagainya. Begitu juga kita sama-sama menerima
informasi awal (pelajaran awal) dari ibu kita sejak dalam kandungan rahimnya
sampai lahir dan menjadi seorang balita, yaitu informasi tentang cinta kasih sayang
yang tulus dari seorang ibu kepada anaknya melalui hati (naluri). Lalu selanjutnya
kita mendapat beragam informasi lainnya, baik dari seorang bapak kita, kakak,
adik, kakek, nenek, om, tante, tetangga rumah, guru dan teman di sekolah dan
lain lainnya, bahkan sampai di sekolah tinggi dan kantor (tempat berkarya), seiring
dengan perkembangan usia, lingkungan dan wawasan kita. Tetapi mengapa peng-aplikasiannya
berbeda-beda dalam kehidupan kita? (dengan asumsi kita mendapat informasi yang
sama)...padahal kita semua umumnya sama-sama memiliki alat penerima informasi yang
sama seperti penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, peraba, perasa
(hati/naluri) dan otak sebagai alat penterjemah/pemroses informasi, serta
momentum/motivasi sebagai penggerak dalam dirinya. Sementara pengertian informasi
disini sangatlah luas, tidak terbatas hanya pada kata-kata (teks tertulis)
saja, melainkan suara, bentuk pisik, bentuk gerakan, gambar, warna, rasa,
aroma, dan sebagainya.
Kita bisa berbicara, duduk di bangku, makan sendiri, mandi sendiri,
pakai baju sendiri adalah dari orang lain (orang tua kita). Kita bisa menghitung
penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian adalah dari orang lain (guru/selain
diri kita). Kita bisa menipu, berbuat kriminal, korupsi dan lain sebagainya yang
dapat merugikan orang lain atau diri sendiri adalah dari orang lain atau dari suatu
hal yang kita terima baik secara langsung ataupun tidak langsung. Bukankah ini
semua merupakan hasil dari copy-paste atau tiru meniru atau duplikasi?. Nah
inilah semua yang dapat membentuk hasil pengaplikasian informasi yang
berbeda-beda dalam kehidupan kita sehari-hari, tergantung pada apa yang paling
dominan yang meng-induksi dirinya. Untuk lebih jelasnya kita ulang sedikit
contoh perumpamaan cerita pendek pada bab sebelumnya ‘paradigma induksi pola
pikir”. Dalam cerita kelima anak tersebut sangatlah jelas terjadi
perbedaan-perbedaan dalam hal penerimaan informasi yang merupakan perbedaan
proses saat meng-“copy–paste”, mengapa?, karena pada proses ini terdapat
beberapa hal yang mendominasi dirinya yaitu alat penerima informasi yang mana
yang siap aktif untuk meng-copy?, seberapa detilkah penyampaian informasi yang
di sampaikan oleh sumber informasi (gurunya/orang yang menyampaikan informasi)
atau mereka meng-copy dari mana?, dan seberapa luaskah informasi yang di copy-nya?.
Mengapa demikian?, karena setiap orang tidak selalu sama persis alat penerima
informasi yang mana yang sedang aktif pada saat meng-copy informasi yang sedang
di sampaikan dan bagaimana pula ia menterjemahkan informasi yang ia terima di
dalam otaknya (seperti contoh cerita kelima anak di atas), atau bahkan bisa
saja si E menerima informasi tidak hanya sebatas memahami penjumlahan 1 + 1 = 2
saja , melainkan ia juga memperhatikan bagaimana cara menjelaskan dan menguraikan
1 + 1 = 2 yang benar yang dalam hal ini di sebut menerima informasi tentang
penyampaian informasi itu sendiri serta pengembangannya. Yang menjadi
pertanyaan, bagaimana jikalau ke-empat anak tersebut (A, B, C, D) belum
melakukan perubahan informasi yang telah masuk ke dirinya tapi mereka sudah
menyampaikan informasi (menduplikasikan) ke orang lain dan orang lain tersebut
juga sudah menyampaikannya lagi ke orang-orang berikutnya. Bagaimana dengan kualitas
informasi tersebut? Dan bagaimana pula dampaknya bila informasi tersebut sudah terduplikasikan
lagi oleh orang-orang lain berikutnya dan seterusnya dan seterusnya? sehingga
sangat sulit untuk menelusuri kembali dari mana informasi ini berawal, baik
yang benar ataupun yang keliru.
Saya tidak bermaksud mengatakan cara copy-paste/tiru meniru/duplikasi
yang mana yang benar atau yang keliru, tapi setidaknya nuansa “iqra” kita jadi
bertambah sehingga kita akan menyadari bahwa hasil copy-paste atau tiru meniru
atau duplikasi akan dapat berbeda-beda pengaplikasiannya dan begitu pula
hasilnya, tergantung pada hal-hal yang mendominasi dirinya.
Jadi, mungkin kita bisa garis bawahi bahwa bila kita ingin benar-benar
berhasil dalam suatu hal atau ingin menjadi benar-benar seorang ahli, maka
lakukanlah “copy-paste/tiru meniru/duplikasi” dengan benar melalui orang-orang
yang benar-benar telah berhasil atau benar-benar telah menjadi seorang ahli.
Karena, …takkan mungkin seorang Valentino Rossi bisa menjadi sang juara dunia
balap motor GP jika ia hanya menerima info dan berlatih motor (meniru) dari
seorang pengendara motor biasa, melainkan ia banyak belajar dengan orang-orang
yang memiliki pengetahuan yang luas dan bertaraf internasional tentang cara
mengendarai motor balap di sirkuit. Begitu pula bila kita telah menjadi seorang
Doctor (S3), sudah tentunya karena kita telah banyak belajar dengan orang-orang
yang telah bertitel Doctor (S3) sebelumnya. Dan yang lebih penting lagi, bila
kita ingin menjadi orang yang “benar-benar baik”, maka belajarlah kepada orang
yang “benar-benar baik”, bukan belajar kepada orang-orang yang selalu “baik-baik”.
Begitu juga bila kita ingin menjadi orang yang “benar-benar pintar”, maka
bergurulah kepada orang yang “benar-benar pintar”, bukan kepada orang-orang
yang selalu “pintar-pintar’.
Terima Kasih.
Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar