Paradigma Induksi Pola Pikir
===========================
Oleh: Sjamsurizal Sjamsudin Uban.
Seumpamanya kita sedang memperhatikan anak-anak murid sekolah dasar yang
katakanlah mereka berjumlah 5 anak yang sedang di ajarkan ilmu matematika oleh seorang
gurunya di kelas, yang kebetulan seorang wanita muda yang cukup cantik
parasnya. Terlihat sikap kelima anak tersebut sangat serius sekali selayaknya
murid-murid teladan dalam menerima pelajaran yang di berikan oleh gurunya.
Suatu saat si guru berkata : “anak-anak…satu di tambah satu sama dengan dua,
paham ya anak-anak?!” sambil menuliskan “1 + 1 = 2” di papan tulis. Kelima anak
tersebut terdiam sejenak sambil memperhatikan apa yang baru di berikan oleh
gurunya, lalu dengan serempak mereka menjawab : “paham bu!”. Kemudian gurunya
melanjutkan : “baiklah anak-anak, kalau sudah paham, ibu akan mengadakan ujian
di minggu depan ya anak-anak?!”, “baik bu” sambut anak-anak.
Anak yang bernama si A menangkap informasi dari gurunya dan menyimpannya
ke dalam otaknya hanya sebatas suara gurunya saja, yaitu “satu ditambah satu
sama dengan dua”, walaupun sikap pandangan si A menatap ke depan papan tulis
(hal ini bisa terjadi oleh orang dewasa sekalipun bila sedang termenung, mata
memandang ke depan tetapi pikiran terbang melayang ntah ke mana). Lalu si B
menangkap informasi dan merekam ke otaknya sebatas suara gurunya “satu ditambah
satu sama dengan dua” dan bentuk tulisan “1 + 1 = 2”. Kemudian si C menangkap
dan menyimpan informasi tersebut seperti kata-kata berikut ini di dalam
pikirannya “waaah tulisan ibu guruku ini bagus sekali yah?!” sambil matanya
memandang takjub ke tulisan gurunya. Bahkan tak kalah hebatnya si D menangkap
dan merekam informasi ke dalam pikirannya seperti ini :”wuaahh tangan ibu guruku
ini halus dan putih juga yah!” sambil memperhatikan kulit tangan gurunya yang
sedang menulis di papan tulis. Sedangkan si E menangkap, mencerna serta merekam
informasi ke otaknya dengan cara memperhatikan substansi dasar dari nilai yang
terkandung dalam sebuah angka 1 yang di simbolkan dengan bentuk “1” adalah bernilai
satu, sedangkan nilai dari suatu tanda operasional yang di simbolkan sebagai bentuk
“+” adalah penjumlahan, lalu nilai dari suatu tanda operasional yang di
simbolkan sebagai bentuk “=” adalah sama dengan, dan nilai dari sebuah angka 2
yang di simbolkan dalam bentuk “2” adalah bernilai dua, dimana nilai dari angka
“2” ini adalah nilai dari hasil penjumlahan angka “1” yang pertama dan angka
“1” yang kedua.
Singkat cerita, tibalah saatnya hari ujian, lalu gurunya berkata kepada
kelima muridnya : “Nah anak-anak, sekarang perhatikan soal yang akan ibu
tuliskan di papan tulis ini dan kalian harus menjawab sendiri-sendiri”…selanjutnya
: ”bebek di tambah bebek sama dengan berapa anak-anak?!” sambil menggambar “se-ekor
bebek” “+” “se-ekor bebek” “= ?”. Nah, kira-kira siapakah yang bisa menjawab soal
tersebut dengan benar?!.
Sebelum menjawabnya, marilah kita jabarkan sedikit bagaimana proses-proses
masuknya informasi ke dalam pikiran masing-masing anak tersebut khususnya dalam
hal menerima, mencerna & mengolah serta menjabarkan informasi yang telah di
berikan oleh gurunya. Pertama, tentunya si A akan bingung menjawab soal
ujiannya karena informasi sebelumnya yang dia terima dan terekam di otaknya
hanya sebatas suara “satu ditambah satu sama dengan dua” sementara yang dia
dengarkan dari gurunya sekarang adalah “bebek ditambah bebek sama dengan
berapa?!”. Kedua, si B tentunya juga bingung menjawabnya karena info sebelumnya
yang terekam di otaknya adalah suara “satu ditambah satu sama dengan dua” dan
bentuk tulisan “1 + 1 = 2”, sementara si B sekarang mendapat info yang berbeda
dari gurunya yaitu suara : ”bebek ditambah bebek sama dengan berapa” dan bentuk
gambar “se-ekor bebek” “+” “se-ekor bebek” “= ?”. Lalu si C pun kebingungan
menjawabnya, karena info sebelumnya yang terekam di otaknya adalah “waaah
tulisan ibu guruku ini bagus sekali yah?!” sambil teringat matanya memandang
takjub ke tulisan gurunya, sementara si C sekarang harus menjawab apa?. Sama
halnya dengan si D yang bahkan lebih bingung lagi menjawabnya karena info
sebelumnya yang terekam melekat di otaknya adalah “”wuaahh tangan ibu guruku
ini halus dan putih juga yah!” sambil teringat pandangannya terhadap kehalusan
kulit tangan gurunya. Bagaimana dengan si E?...sudah tentu si E-lah yang mampu
menjawabnya dengan benar. Mengapa demikian?. Padahal kita sama-sama mengetahui
bahwa kelima anak ini mendapat informasi dari sumber (guru) yang sama, isi
informasi (mata pelajaran) yang sama dan waktu yang sama, tapi mengapa hasil
outputnya berbeda-beda?. Kurang lebih karena di dalam otak si E sudah terformat
pola pikir yang terstruktur melalui pemahaman nilai-nilai secara esensi/substansi/value.
Mengapa ini bisa terjadi?.
Pada dasarnya kelima anak ini (termasuk kita) berawal mendapat informasi
dari orang tuanya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya. Barulah saat usia
sekolah mereka mendapat informasi selanjutnya dari pendidikan sekolah/lingkungan
sekolah, lingkungan kuliah, organisasi, kantor, rumah tangga dan sebagainya. Tetapi
mungkin ada yang terlewatkan di sini, tetapi bukan soal informasinya dan siapa
yang menyampaikannya, melainkan bagaimana pola/pembentukannya yang sering
terjadi sehingga terformat ke dalam diri anak-anak tersebut tanpa mereka
sadari?!. Karena semua inilah yang akan berdampak dalam kehidupan anak tersebut
kelak. Jadi, bagaimana dengan kita?. Apakah kita sudah menyadari yang terformat
dalam pikiran kita selama ini?.
Seseorang tidak akan pernah berbicara atau bertindak di luar apa yang telah
ia ketahui sebelumnya. Seseorang tidak mungkin bisa mengendarai motor jika
seumur hidupnya belum pernah melihat motor atau belum pernah menerima informasi
cara mengendarai motor dan belum pernah melatih mengendarainya. Tidak ada orang
yang tiba-tiba langsung bisa, tidak ada orang yang tiba-tiba langsung pandai,
dan tidak ada orang yang tiba-tiba langsung mengerti. Orang menjadi bisa, orang
menjadi pandai, dan orang menjadi mengerti, karena mereka mau menjadi bisa, mau
menjadi pandai dan mau menjadi mengerti, karena mereka benar-benar belajar dan
berusaha untuk itu!. Hidup adalah pilihan, kita ingin menjadi penonton atau
pemain?, menjadi pesuruh atau penyuruh?, jadi bawahan atau atasan?, menjadi
kendaraan atau pengendara?, yang di kendalikan atau pengendali?, pekerja atau
pemberi kerja?, yang di bimbing atau pembimbing?, peminta atau pemberi?, pengikut
atau pemimpin?, pecundang atau pejuang?, dan sebagainya. Tak masalah apapun
pilihan kita, apapun latar belakang pendidikan kita dan apapun status sosial
kita, tapi setidaknya kita akan menyadari bahwa kualitas diri kita sebagian
besar di pengaruhi oleh pembentukan pola pikir, dimana pola pikir akan menumbuhkan
bentuk-bentuk sikap, sikap akan mempengaruhi tindakan yang cenderung di
ulang-ulang, tindakan yang di ulang-ulang akan membentuk suatu kebiasaan-kebiasaan,
kebiasaan-kebiasaan ini yang akan melahirkan suatu hasil (nilai/status/kualitas).
Pada fase-fase inilah akan terjadi induksi- induksi ke dalam otak bawah sadar
kita yang secara umum paling banyak berperan dalam menggerakkan diri kita pada kehidupan
sehari-hari, terlepas fase-fase tersebut bernilai positif atau pun negatif. Di samping
faktor “hati, doa serta keberuntungan”, pada dasarnya kelima fase ini juga merupakan
tahapan-tahapan/proses dasar yang akan berdampak pada kualitas kehidupan
manusia. Dan bisa jadi fase-fase ini ada kaitannya dengan kata-kata WYSIWYG (What You See Is What You Get) atau You are is what you’re thinking !!!.
Pada akhirnya, bila anda memahami maksud dan tujuan dari tulisan saya
ini, dikarenakan anda “sungguh-sungguh mau” memahami isi dari tulisan-tulisan
ini, sehingga hasilnya adalah anda menjadi “paham”. That’s your choice !.
Terimakasih.
Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar