Jumat, 08 September 2017

Pola Pikir

Paradigma Induksi Pola Pikir
===========================
Oleh: Sjamsurizal Sjamsudin Uban.


Seumpamanya kita sedang memperhatikan anak-anak murid sekolah dasar yang katakanlah mereka berjumlah 5 anak yang sedang di ajarkan ilmu matematika oleh seorang gurunya di kelas, yang kebetulan seorang wanita muda yang cukup cantik parasnya. Terlihat sikap kelima anak tersebut sangat serius sekali selayaknya murid-murid teladan dalam menerima pelajaran yang di berikan oleh gurunya. Suatu saat si guru berkata : “anak-anak…satu di tambah satu sama dengan dua, paham ya anak-anak?!” sambil menuliskan “1 + 1 = 2” di papan tulis. Kelima anak tersebut terdiam sejenak sambil memperhatikan apa yang baru di berikan oleh gurunya, lalu dengan serempak mereka menjawab : “paham bu!”. Kemudian gurunya melanjutkan : “baiklah anak-anak, kalau sudah paham, ibu akan mengadakan ujian di minggu depan ya anak-anak?!”, “baik bu” sambut anak-anak.

Anak yang bernama si A menangkap informasi dari gurunya dan menyimpannya ke dalam otaknya hanya sebatas suara gurunya saja, yaitu “satu ditambah satu sama dengan dua”, walaupun sikap pandangan si A menatap ke depan papan tulis (hal ini bisa terjadi oleh orang dewasa sekalipun bila sedang termenung, mata memandang ke depan tetapi pikiran terbang melayang ntah ke mana). Lalu si B menangkap informasi dan merekam ke otaknya sebatas suara gurunya “satu ditambah satu sama dengan dua” dan bentuk tulisan “1 + 1 = 2”. Kemudian si C menangkap dan menyimpan informasi tersebut seperti kata-kata berikut ini di dalam pikirannya “waaah tulisan ibu guruku ini bagus sekali yah?!” sambil matanya memandang takjub ke tulisan gurunya. Bahkan tak kalah hebatnya si D menangkap dan merekam informasi ke dalam pikirannya seperti ini :”wuaahh tangan ibu guruku ini halus dan putih juga yah!” sambil memperhatikan kulit tangan gurunya yang sedang menulis di papan tulis. Sedangkan si E menangkap, mencerna serta merekam informasi ke otaknya dengan cara memperhatikan substansi dasar dari nilai yang terkandung dalam sebuah angka 1 yang di simbolkan dengan bentuk “1” adalah bernilai satu, sedangkan nilai dari suatu tanda operasional yang di simbolkan sebagai bentuk “+” adalah penjumlahan, lalu nilai dari suatu tanda operasional yang di simbolkan sebagai bentuk “=” adalah sama dengan, dan nilai dari sebuah angka 2 yang di simbolkan dalam bentuk “2” adalah bernilai dua, dimana nilai dari angka “2” ini adalah nilai dari hasil penjumlahan angka “1” yang pertama dan angka “1” yang kedua.

Singkat cerita, tibalah saatnya hari ujian, lalu gurunya berkata kepada kelima muridnya : “Nah anak-anak, sekarang perhatikan soal yang akan ibu tuliskan di papan tulis ini dan kalian harus menjawab sendiri-sendiri”…selanjutnya : ”bebek di tambah bebek sama dengan berapa anak-anak?!” sambil menggambar “se-ekor bebek” “+” “se-ekor bebek” “= ?”. Nah, kira-kira siapakah yang bisa menjawab soal tersebut dengan benar?!.

Sebelum menjawabnya, marilah kita jabarkan sedikit bagaimana proses-proses masuknya informasi ke dalam pikiran masing-masing anak tersebut khususnya dalam hal menerima, mencerna & mengolah serta menjabarkan informasi yang telah di berikan oleh gurunya. Pertama, tentunya si A akan bingung menjawab soal ujiannya karena informasi sebelumnya yang dia terima dan terekam di otaknya hanya sebatas suara “satu ditambah satu sama dengan dua” sementara yang dia dengarkan dari gurunya sekarang adalah “bebek ditambah bebek sama dengan berapa?!”. Kedua, si B tentunya juga bingung menjawabnya karena info sebelumnya yang terekam di otaknya adalah suara “satu ditambah satu sama dengan dua” dan bentuk tulisan “1 + 1 = 2”, sementara si B sekarang mendapat info yang berbeda dari gurunya yaitu suara : ”bebek ditambah bebek sama dengan berapa” dan bentuk gambar “se-ekor bebek” “+” “se-ekor bebek” “= ?”. Lalu si C pun kebingungan menjawabnya, karena info sebelumnya yang terekam di otaknya adalah “waaah tulisan ibu guruku ini bagus sekali yah?!” sambil teringat matanya memandang takjub ke tulisan gurunya, sementara si C sekarang harus menjawab apa?. Sama halnya dengan si D yang bahkan lebih bingung lagi menjawabnya karena info sebelumnya yang terekam melekat di otaknya adalah “”wuaahh tangan ibu guruku ini halus dan putih juga yah!” sambil teringat pandangannya terhadap kehalusan kulit tangan gurunya. Bagaimana dengan si E?...sudah tentu si E-lah yang mampu menjawabnya dengan benar. Mengapa demikian?. Padahal kita sama-sama mengetahui bahwa kelima anak ini mendapat informasi dari sumber (guru) yang sama, isi informasi (mata pelajaran) yang sama dan waktu yang sama, tapi mengapa hasil outputnya berbeda-beda?. Kurang lebih karena di dalam otak si E sudah terformat pola pikir yang terstruktur melalui pemahaman nilai-nilai secara esensi/substansi/value. Mengapa ini bisa terjadi?.

Pada dasarnya kelima anak ini (termasuk kita) berawal mendapat informasi dari orang tuanya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya. Barulah saat usia sekolah mereka mendapat informasi selanjutnya dari pendidikan sekolah/lingkungan sekolah, lingkungan kuliah, organisasi, kantor, rumah tangga dan sebagainya. Tetapi mungkin ada yang terlewatkan di sini, tetapi bukan soal informasinya dan siapa yang menyampaikannya, melainkan bagaimana pola/pembentukannya yang sering terjadi sehingga terformat ke dalam diri anak-anak tersebut tanpa mereka sadari?!. Karena semua inilah yang akan berdampak dalam kehidupan anak tersebut kelak. Jadi, bagaimana dengan kita?. Apakah kita sudah menyadari yang terformat dalam pikiran kita selama ini?.

Seseorang tidak akan pernah berbicara atau bertindak di luar apa yang telah ia ketahui sebelumnya. Seseorang tidak mungkin bisa mengendarai motor jika seumur hidupnya belum pernah melihat motor atau belum pernah menerima informasi cara mengendarai motor dan belum pernah melatih mengendarainya. Tidak ada orang yang tiba-tiba langsung bisa, tidak ada orang yang tiba-tiba langsung pandai, dan tidak ada orang yang tiba-tiba langsung mengerti. Orang menjadi bisa, orang menjadi pandai, dan orang menjadi mengerti, karena mereka mau menjadi bisa, mau menjadi pandai dan mau menjadi mengerti, karena mereka benar-benar belajar dan berusaha untuk itu!. Hidup adalah pilihan, kita ingin menjadi penonton atau pemain?, menjadi pesuruh atau penyuruh?, jadi bawahan atau atasan?, menjadi kendaraan atau pengendara?, yang di kendalikan atau pengendali?, pekerja atau pemberi kerja?, yang di bimbing atau pembimbing?, peminta atau pemberi?, pengikut atau pemimpin?, pecundang atau pejuang?, dan sebagainya. Tak masalah apapun pilihan kita, apapun latar belakang pendidikan kita dan apapun status sosial kita, tapi setidaknya kita akan menyadari bahwa kualitas diri kita sebagian besar di pengaruhi oleh pembentukan pola pikir, dimana pola pikir akan menumbuhkan bentuk-bentuk sikap, sikap akan mempengaruhi tindakan yang cenderung di ulang-ulang, tindakan yang di ulang-ulang akan membentuk suatu kebiasaan-kebiasaan, kebiasaan-kebiasaan ini yang akan melahirkan suatu hasil (nilai/status/kualitas). Pada fase-fase inilah akan terjadi induksi- induksi ke dalam otak bawah sadar kita yang secara umum paling banyak berperan dalam menggerakkan diri kita pada kehidupan sehari-hari, terlepas fase-fase tersebut bernilai positif atau pun negatif. Di samping faktor “hati, doa serta keberuntungan”, pada dasarnya kelima fase ini juga merupakan tahapan-tahapan/proses dasar yang akan berdampak pada kualitas kehidupan manusia. Dan bisa jadi fase-fase ini ada kaitannya dengan kata-kata WYSIWYG (What You See Is What You Get) atau You are is what you’re thinking !!!.

Pada akhirnya, bila anda memahami maksud dan tujuan dari tulisan saya ini, dikarenakan anda “sungguh-sungguh mau” memahami isi dari tulisan-tulisan ini, sehingga hasilnya adalah anda menjadi “paham”. That’s your choice !.

Terimakasih.




Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar