Jumat, 08 September 2017

Ketentuan Mutlak Ilahi

Alloh Melindungi HambaNya Dengan KetentuanNya Sendiri
==============================================
Oleh: Sjamsurizal Sjamsudin Uban.


Pada suatu senja, di salah satu sudut sebuah dusun kecil yang indah panoramanya, terlihat seorang nenek sebatang kara yang sedang membaca ayat-ayat suci Al-Quran di atas bangku bale teras depan rumahnya. Nenek ini sangat dikenal “taat” ibadahnya di kalangan warga dusunnya.

Singkatnya, pada suatu hari turunlah hujan yang sangat lebat, menyirami seluruh wilayah dusun tersebut, sementara si nenek sedang asiknya membersihkan pekarangan rumahnya. Lalu si nenek bergegas masuk ke dalam rumahnya agar tidak terkena basahnya air hujan. Tak lama kemudian suara azhan magrib pun berkumandang. Dan seperti biasanya si nenek langsung mengambil air wudhu untuk shalat magrib. Setelah menyelesaikan shalatnya, si nenek pergi menutup pintu jendela ruang tamunya. Namun, si nenek sangat terkejut ketika melihat seluruh pekarangan rumahnya sudah terendam air hujan sebatas lutut. Dan seketika itu juga ia berkata : “Ya Alloh, sedemikian cepatnya air hujan ini membanjiri pekarangan rumahku?!”. Lalu si nenek langsung melanjutkannya dengan memohon do’a kepada Alloh SWT melalui suara hatinya : “Ya Alloh, selamatkanlah aku dari badai hujan lebat ini…Amiiin”. Akan tetapi, si hujan lebat ini tiada henti-hentinya bagaikan tak kenal lelah mencurahkan airnya ke seluruh pelosok dusun tersebut.

Beberapa saat telah berlalu…tiba-tiba terdengar suara dari luar rumah si nenek…”Assalam mu’alaikum”, si nenek langsung menyambutnya dengan “Wa ‘alaikum salam” sambil membuka pintu depan rumahnya,…ternyata mereka adalah para tetangganya yang datang mengajak si nenek untuk menyingkir sementara ke dusun sebelah yang dataran wilayahnya jauh lebih tinggi. Namun si nenek menolaknya secara halus, karena ia merasa yakin bahwa Alloh sebentar lagi akan meredakan hujannya. Lalu, mereka berpamitan dan langsung berangkat menuju dusun sebelah. Waktu terus berjalan, hujan pun masih berlangsung dan air makin naik setinggi pinggang. Si nenek mulai terlihat khawatir, lalu beranjak naik ke atas bale depan terasnya sambil memeluk selimut dinginnya yang setengah basah dan selalu berdo’a. Tiba-tiba datanglah lagi 2 orang dengan mengendarai perahu karet yang ternyata adalah bapak kepala dusun dan seorang ustadz muda yang datang bermaksud menjemput si nenek untuk mengungsi. Lagi-lagi si nenek  menolaknya sambil berkata dengan gemetar karena kedinginan : ”Tidak usah pak, biar saya di sini saja, InsyaAlloh sebentar lagi hujan akan reda”, namun si ustadz pun ikut mengingatkan si nenek :”Iya nek, InsyaAlloh…tapi mohon maaf nek, bukankah Alloh melindungi hambaNya selalu dengan ketentuanNya?”. Singkat cerita, si nenek masih tetap menolaknya. Tak lama kemudian air sudah setinggi dada, dan datanglah Tim SAR dengan pesawat helikopternya dan seorang petugas pun turun melalui tangga daruratnya yang menjulur kebawah sambil menyodorkan tangan kekarnya ke si nenek dan berkata :”Nek…ayo naik nek, jangan sia-siakan kesempatan ini nek?!,  bukankah Alloh itu melindungi hambaNya selalu dengan KetentuanNya sendiri?!”. Luar biasanya, si nenek ini lebih tegas lagi menolaknya dan bahkan ia meyakinkan kepada petugas tersebut bahwa Alloh pasti akan menolongnya. Sambil menghela nafas panjang, si petugas tim SAR pun pergi meninggalkan si nenek.

Ke esokan harinya, terlihatlah panorama sebuah dusun yang sangat indah sebelumnya itu berubah total bagaikan  lautan air bah.

Kesimpulan pada contoh cerita di atas bahwa si nenek mengharapkan bentuk aplikasi dari bala bantuan Alloh terjadi sesuai dengan harapannya. Mungkin saja si nenek mengharapkan hujan lebat tersebut cepat berhenti dan banjirnya cepat surut. Walaupun telah di kabulkan permintaannya tapi sayangnya ia tidak menyadari bentuk dari hasil do’anya tersebut. Mengapa? Karena kita tidak memiliki ketentuan dalam mengaplikasikan hasil doa kita, kecuali melalui Ketentuan Alloh semata. Kisah si nenek ini hanyalah kiasan saja, tapi setidaknya kisah ini dapat menambahkan nuansa “iqra” kita dalam menyelaraskan antara do’a dari hati dan sikap serta keikhlasan kita dalam menerima pengaplikasiannya dari hasil do’a kita dalam kehidupan sehari-hari.


Terima kasih.





Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar