Alloh Melindungi HambaNya Dengan KetentuanNya Sendiri
==============================================
Oleh: Sjamsurizal Sjamsudin Uban.
Pada
suatu senja, di salah satu sudut sebuah dusun kecil yang indah panoramanya,
terlihat seorang nenek sebatang kara yang sedang membaca ayat-ayat suci Al-Quran
di atas bangku bale teras depan rumahnya. Nenek ini sangat dikenal “taat”
ibadahnya di kalangan warga dusunnya.
Singkatnya,
pada suatu hari turunlah hujan yang sangat lebat, menyirami seluruh wilayah dusun
tersebut, sementara si nenek sedang asiknya membersihkan pekarangan rumahnya. Lalu
si nenek bergegas masuk ke dalam rumahnya agar tidak terkena basahnya air
hujan. Tak lama kemudian suara azhan magrib pun berkumandang. Dan seperti
biasanya si nenek langsung mengambil air wudhu untuk shalat magrib. Setelah
menyelesaikan shalatnya, si nenek pergi menutup pintu jendela ruang tamunya. Namun,
si nenek sangat terkejut ketika melihat seluruh pekarangan rumahnya sudah
terendam air hujan sebatas lutut. Dan seketika itu juga ia berkata : “Ya Alloh,
sedemikian cepatnya air hujan ini membanjiri pekarangan rumahku?!”. Lalu si
nenek langsung melanjutkannya dengan memohon do’a kepada Alloh SWT melalui
suara hatinya : “Ya Alloh, selamatkanlah aku dari badai hujan lebat ini…Amiiin”.
Akan tetapi, si hujan lebat ini tiada henti-hentinya bagaikan tak kenal lelah
mencurahkan airnya ke seluruh pelosok dusun tersebut.
Beberapa
saat telah berlalu…tiba-tiba terdengar suara dari luar rumah si nenek…”Assalam
mu’alaikum”, si nenek langsung menyambutnya dengan “Wa ‘alaikum salam” sambil
membuka pintu depan rumahnya,…ternyata mereka adalah para tetangganya yang
datang mengajak si nenek untuk menyingkir sementara ke dusun sebelah yang
dataran wilayahnya jauh lebih tinggi. Namun si nenek menolaknya secara halus,
karena ia merasa yakin bahwa Alloh sebentar lagi akan meredakan hujannya. Lalu,
mereka berpamitan dan langsung berangkat menuju dusun sebelah. Waktu terus berjalan,
hujan pun masih berlangsung dan air makin naik setinggi pinggang. Si nenek
mulai terlihat khawatir, lalu beranjak naik ke atas bale depan terasnya sambil
memeluk selimut dinginnya yang setengah basah dan selalu berdo’a. Tiba-tiba datanglah
lagi 2 orang dengan mengendarai perahu karet yang ternyata adalah bapak kepala dusun
dan seorang ustadz muda yang datang bermaksud menjemput si nenek untuk
mengungsi. Lagi-lagi si nenek menolaknya
sambil berkata dengan gemetar karena kedinginan : ”Tidak usah pak, biar saya di
sini saja, InsyaAlloh sebentar lagi hujan akan reda”, namun si ustadz pun ikut mengingatkan
si nenek :”Iya nek, InsyaAlloh…tapi mohon maaf nek, bukankah Alloh melindungi
hambaNya selalu dengan ketentuanNya?”. Singkat cerita, si nenek masih tetap
menolaknya. Tak lama kemudian air sudah setinggi dada, dan datanglah Tim SAR
dengan pesawat helikopternya dan seorang petugas pun turun melalui tangga
daruratnya yang menjulur kebawah sambil menyodorkan tangan kekarnya ke si nenek
dan berkata :”Nek…ayo naik nek, jangan sia-siakan kesempatan ini nek?!, bukankah Alloh itu melindungi hambaNya selalu
dengan KetentuanNya sendiri?!”. Luar biasanya, si nenek ini lebih tegas lagi menolaknya
dan bahkan ia meyakinkan kepada petugas tersebut bahwa Alloh pasti akan menolongnya.
Sambil menghela nafas panjang, si petugas tim SAR pun pergi meninggalkan si
nenek.
Ke
esokan harinya, terlihatlah panorama sebuah dusun yang sangat indah sebelumnya
itu berubah total bagaikan lautan air
bah.
Kesimpulan
pada contoh cerita di atas bahwa si nenek mengharapkan bentuk aplikasi dari bala
bantuan Alloh terjadi sesuai dengan harapannya. Mungkin saja si nenek
mengharapkan hujan lebat tersebut cepat berhenti dan banjirnya cepat surut.
Walaupun telah di kabulkan permintaannya tapi sayangnya ia tidak menyadari
bentuk dari hasil do’anya tersebut. Mengapa? Karena kita tidak memiliki
ketentuan dalam mengaplikasikan hasil doa kita, kecuali melalui Ketentuan Alloh
semata. Kisah si nenek ini hanyalah kiasan saja, tapi setidaknya kisah ini
dapat menambahkan nuansa “iqra” kita dalam menyelaraskan antara do’a dari hati
dan sikap serta keikhlasan kita dalam menerima pengaplikasiannya dari hasil do’a
kita dalam kehidupan sehari-hari.
Terima kasih.
Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar